Home Ekonomi Harga Serba Naik, Para Owner Warteg se- Jabodetabek Bertahan dari Serangan Inflasi

Harga Serba Naik, Para Owner Warteg se- Jabodetabek Bertahan dari Serangan Inflasi

140
0

Para owner warteg se- Jabodetabek berkumpul bersama serta membentuk komunitas yang dinamakan Komunitas Warteg Nusantara( Kowantara) supaya bisa silih menolong dalam menempuh usaha mereka.

Dikutip BBC di Jakarta, Rabu( 2/ 8/ 2023), aktivitas itu dicoba di suatu warteg kepunyaan Tarsih Irdayanti serta suaminya yang terletak di pinggir jalur Otista Raya, Jakarta Timur.

Warteg itu menjual berbagai macam santapan, mulai dari sayur kangkung, tempe orek, ikan bakar serta yang lain.

Semacam warteg yang ialah singkatan dari warung Tegal, Tarsih sendiri ialah masyarakat asli Kota Tegal, Jawa Tengah.

Ia telah tinggal serta mengelola warteg di Jakarta sepanjang nyaris 20 tahun.

Ia menyebut telah mulai menolong orang tuanya melayani para konsumen lapar di warteg mereka di Jakarta semenjak dia duduk di bangku kelas 4 SD.

“ Aku belajar nyentong nasi serta melayani itu dari SD kelas 4. Tiap kali liburna aku dibawa ke Jakarta. Waktu itu di wilayah Budi Luhur, di wilayah petukangan selatan itu,” ungkap Tarsih yang saat ini berumur 48 tahun.

Ia mengaku masih ingat betul pengalamannya berbelanja di pasar pagi- pagi seseorang diri dikala dia SMA. Para penjual langsung meneriakinya dengan penuh semangat, menawarkan bermacam benda jualan mereka, mulai dari ketahui sampai unggas.

“ Jika dahulu lezat, bahan- bahan santapan seluruh murah serta natural. Saat ini telah serba mahal serta praktis,” katanya.

Setelah itu, ia mengatakan jika berkata inflasi yang saat ini tidak dapat diprediksi terus menjadi‘ mencekik‘ para pengusaha warteg.

Perihal itu sebab rata- rata harga lauk di warteg naik nyaris 2 kali lipat bila dibanding dengan 10 tahun kemudian.

Ada pula akibatnya, kala dahulu pengusaha warteg dapat memperoleh untung sangat tidak 40% dari hasil penjualan, saat ini pemasukan jadi 20%. Itu juga bila si owner lagi beruntung.

“ Aku kerja dengan suami aku di warung dengan jam kerja warteg dari jam 4 pagi hingga dengan jam 10 malam, itu tidak sebanding dengan tenaga yang keluar,” bebernya.

Walaupun begitu, dia mengaku dekat 80- 90% dari keluarga besarnya yang berasal dari Tegal masih aktif menekuni usaha warteg.

“ Mereka pada buka warteg. Keponakan- keponakan aku, terdapat yang angkatan darat, terdapat yang angkatan laut, tetapi senantiasa wartegnya itu enggak ditinggal,” ungkap Tarsih.

Sedangkan, Pimpinan Komunitas Warteg Nusantara, Mukroni, mengaku pada dini mulanya Kowantara dibangun dengan tujuan dilahturahmi, supaya para owner warteg bisa silih tahu serta berkumpul bersama. Tetapi, saat ini gunanya telah tumbuh jadi lebih luas.

“ Jadi silaturahmi istilahnya, sebagi wujud persaudaraan antar- para pegiat warteg. Yang kedua, ya jika dapat kita menggerakkan ekonomi, kita nanti hendak mendirikan sebagian koperasi,“ kata Mukroni.

Koperasi yang diartikan Mukroni pula diberi nama Kowantara, ialah Koperasi Warteg Nusantara. Koperasi- koperasi tersebut digunakan oleh komunitas itu buat membeli bahan- bahan bawah santapan dalam jumlah besar serta disalurkan kepada para anggota.

“ Itu ilham kita, gagasan kita buat mewadahi supaya mereka[para owner warteg] bisa mendapatkan harga bahan sembako, bahan pokok buat kebutuhan warteg dengan harga yang lumayan murah serta bermutu,“ ucapnya.

Koperasi itu nyatanya jadi sangat bermanfaat dalam menanggulangi lonjakan harga bahan pangan, paling utama minyak goreng yang pernah hadapi kelangkaan di pasar. Terdapat pula bahan santapan lain semacam beras serta telur yang disediakan oleh koperasi.

“ Jadi jika kita kompak, jika kita bersama solid, kita hendak dapat memperoleh harga murah, barangnya bermutu,“ lanjutnya.

Ada pula tidak hanya sediakan bahan santapan dengan harga terjangkau, Kowantara pula mengadakan pelatihan- pelatihan buat anggotanya yang mau tingkatkan skill mereka di bidang kuliner, baik itu dari segi kesehatan maupun modifikasi menu.

“ Kita sempat kerjasama itu dengan Unilever, misalnya dengan bahan baku yang murah tetapi tidak memiliki bahan kimia,” bebernya.

Jadi masih terdapat keterkaitan dengan santapan. Dari segi halal, kesehatan, kebersihan, ya terus pembiayaan, akses. Misalnya terdapat bank yang ingin menyalurkan PUR, monggo silakan catatan.

Lebih lanjut, Mukroni berkata kalau Kowantara pula menolong legalitas usaha para anggotanya dengan dalam pembuatan No Induk Berupaya( NIB).

Dengan mempunyai NIB, sambungnya, para owner warteg bisa dipermudah dalam mengakses layanan perbankan serta terdaftar buat menerima dorongan pemerintah.

Program- program tersebut direncanakan bersama pada pertemuan para anggota yang diselenggarakan sekali tiap bulan di daerah tiap- tiap. Sedangkan, buat kegiatan pertemuan para anggota secara nasional, umumnya diadakan setahun sekali.

“ Itu per Kanwil umumnya. Misalnya di Bogor, terus nanti kan jaraknya cukup, makanya kita datangi. Mari di Bogor adakan Kopdar, nanti kita dapat sembari arisan,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Tarsih, yang pula berprofesi selaku sekretaris Kowantara, berkata kalau komunitas itu kerapkali jadi wadah penyaluran aspirasi para pengusaha warteg.

“ Jika terdapat peraturan- peraturan pemerintah yang kayaknya merugikan. Kemarin waktu Warteg ingin dikenakan pajak, berat banget sebab yang makan( di warteg) bukan orang- orang yang banyak uang,” kata Tarsih.

Previous articleAyo Cobain Patungan Seru ala MotionBank
Next articlePengusaha Ungkap Pemicu Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kg